[ 15.04.2026 ] Dua hari terakhir, tenggorokanku dimanjakan oleh buah lokal yang rasanya legit dengan tekstur lunak dan bening serta berair, mirip jeli. Ya, buah buah lokal berlabel borassus flabellifer yang dikenal dengan nama lontar atau siwalan. Di Sulawesi Selatan, masyarakat menyebutnya buat tala’ (Makassar) atau ta’ (Bugis). Bahkan salah satu jalan di selatan Kota Makassar bernama jalan Tala’ Salapang.
Nama Tala’ Salapang mengacu ke sembilan pohon lontar yang berdiri sejajar di mulut jalan ini, yang konon telah berusia 300an tahun. Syahdan, kesembilan pohon lontar tersebut ditanam oleh anggota dewan adat kerajaan Gowa yang beranggotakan 9 orang dan dikenal sebagai Bate Salapang.
Kesembilan pohon itu merupakan penanda perbatasan dua kerajaan kembar yang menguasai Makassar ketika itu, Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Syahdan itu terjadi di era kepemimpinan seorang raja perempuan di kerajaan Tallo, I Sambo Daeng Niasseng Karaeng Pattingalloang Karaeng Bainea yang memerintah sebagai raja Tallo ke-5 (1576-1593), semasa dengan raja Gowa ke-10 I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiyung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565).
Kembali ke lontar, buah ini merupakan merupakan hasil dari pohon sejenis palem yang banyak tumbuh di daerah tropis, terutama di Asia Tenggara dan Asia Selatan, termasuk di Indonesia. Khusus di Sulawesi Selatan, salah satu daerah yang banyak ditumbuhi pohon lontar adalah kabupaten Jeneponto, dan di sinilah aku beberapa hari terakhir.
Selain nikmat, buah tala’ juga menyimpan segudang manfaat bagi kesehatan sehingga menjadikannya sebagai camilan adalah sebuah pilihan tepat. Di dalam buahnya yang muda, tersimpan air yang mengandung elektrolit, natrium dan kalium. Seperti buah kelapa, ini berperan penting dalam menggantikan cairan tubuh yang hilang.
Karena kandungan airnya yang tinggi, mengkonsumsi buah tala’ akan membuat kulit menjadi lebih lembab. Tak tanggung-tanggung, 90 persen kandungan buah tala’ adalah air, dan bukan air biasa. Air buah tala’ mengandung serat peptin yang akan membentuk asam lemak rantai pendek bila difermentasi oleh bakteri baik di usus besar. Asam ini sangat berperan bagi regenerasi sel.
Selain itu, terdapat beberapa senyawa fenolik dan flavonoid dalam buah tala’ yang berperan menjadi antioksidan alami. Bahkan, buah tala’ juga mengandung berbagai vitamin dan mineral penting seperti vitamin B kompleks, vitamin C, serta beberapa mineral seperti zat besi, seng, dan fosfor. Sungguh kaya bukan?
Cuma sayangnya, penyajian buah tala’ belum sekaya penyajian buah kelapa yang bisa hadir menjadi campuran es buah, serta bahan utama pembuatan es kopyor, dan es kelapa muda. Buah tala’ masih disajikan untuk dikonsumsi sekadarnya, tanpa olahan lebih lanjut yang bisa mengundang selera.
Bahkan, menikmati buah tala’ muda masih terkesan sebagai produk sampingan dari roda ekonomi masyarakat yang berpendar di seputar pohon lontar. Masyarakat, khususnya di Jeneponto lebih menjadikan pohon lontar sebagai sumber nira (cairan gula alami) atau ballo’ yang disajikan sebagai minuman segar yang nikmat (ballo’ te’ne), dan sebagai bahan membuat gula merah.
Bahkan, tak jarang, ballo’ juga disajikan sebagai minuman tradisional beralkohol (ballo’ pai’) yang telah berakar kuat dalam kebiasaan orang Sulawesi Selatan. Ballo pai’ adalah pasangan ‘wajib’ untuk menikmati gantala’ jarang, masakan khas Jeneponto berupa olahan daging kuda dengan bumbu minimalis.
Memang telah ada upaya inovatif yang dilakukan oleh masyarakat lokal, meski masih belum menjadi arus utama. Seperti yang dilakukan oleh SMK Negeri 4 Jeneponto. Di bawah kepemimpinan St. Nurlia M. Ali, S.Pd., M.M. sebagai kepala sekolah, mereka berinovasi dengan membuat selai berbahan dasar buah tala’ yang telah tua.
Produksi selai buah tala’ SMK Negeri 4 Jeneponto disuplai untuk memenuhi kebutuhan produksi dua ribu lebih roti selai sebagai salah satu menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kabupaten Jeneponto. Tentu ini penghasilan yang lumayan bagi sekolah yang pembiayaannya hanya tergantung pada transferan dana BOS.
Inovasi apa lagi kira-kira yang akan dihasilkan dari buah tala’? Mari kita tunggu.

0 Komentar