Merawat Lokalitas Di Tengah Gempuran Algoritma


[ BONE, 26.04.2026 ] Tersebab pekerjaan, aku menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Atas Negeri 14 Bone –sebelumnya lebih dikenal dengan nama SMA Tokaseng– yang terletak di Jalan Poros Bone-Sengkang (Jl. Veteran K.M. 17), tepatnya di Desa Tokaseng, Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone. Sekira 17 (tujuh belas) kilometer dari Titik Nol Kota Watampone, tepat di Lapangan Merdeka.

Aku tiba jumat pagi, penanggalan 24 April 2026 yang bertepatan dengan 07 Zulkaiddah 1447 H. Setelah menyampaikan tujuan ke Kepala Sekolah, Drs. Mubarrak, M.Pd. –seorang pria paruh baya bersuara lembut dan berperangai pengayom, aku menyempatkan diri berjalan di koridor penghubung antar ruangan dan bangunan yang beratap seng.

Di sepanjang koridor, tepat di bawah atap, setiap sekira jarak 5 (lima) meter, tergantung sebuah papan bicara yang berisi kutipan nasihat yang ditulis dalam tiga bahasa (Indonesia, Inggris, dan Bugis) yang ditulis dalam dua aksara: Lontaraq dan Latin. Upaya merawat tradisi lokal dan menyandingkannya dengan sesuatu yang mengglobal. Sebuah glokalisasi yang unik.

Menariknya, fatwa-fatwa tersebut, ada yang bernuansa kuna dengan menggunakan kata arkaik dari bahasa Bugis, tetapi tak jarang ditemukan fatwa yang menggunakan kata Bahasa Bugis yang relatif baru dan lazim digunakan hingga hari ini. Setiap papan bicara, mencantumkan siapa yang telah menggubah petuah tersebut. Selain dari pihak manajemen sekolah dan para guru, juga terdapat petuah dari seorang guru besar UNM: Prof. Dr. Hamzah Upu, M.Ed.

Beliau berpesan seperti ini: Pendidikan Adalah Senjata Ampuh Untuk Mengubah Diri Sendiri, Keluarga, Negara, Bahkan Dunia  -  Education Is a Powerfull Weapon To Change Yourself, Family, Country, and Even The World  -  ᨄᨉᨗᨔᨛᨂᨛᨂᨙ ᨄᨑᨙᨓ ᨆᨈᨑᨛ ᨄᨀᨛᨔᨗᨂᨗᨓᨗ ᨕᨒᨙᨈ, ᨔᨗᨒᨛᨔᨘᨑᨛ ᨆᨒᨛᨅᨗᨈ, ᨓᨊᨘᨕ, ᨊᨛᨊᨗᨕ ᨒᨗᨊᨚ᨞

Melalui petuah ini Prof. Hamzah ingin mengingatkan kita semua akan arti penting pendidikan bagi mobilitas pribadi dan perubahan sosial. Perubahan, baik di level pribadi, keluarga, komunitas, bangsa, dan masyarakat global, semua bertumpu pada pendidikan. Maka, Pendidikan adalah koentji!

Di sisi lain, terdapat pesan berbeda dari beliau, begini bunyinya: Masa Depan Adalah Milik Bagi Orang Yang Terus Menerus Belajar, Sedangkan Masa Lalu Adalah Milik Bagi Mereka Yang Telah Berhenti Belajar  -  The Future Belongs To Those Who Are Constanty Learning, While The Past Belongs To Those Who Have Stopped Learning  -  ᨓᨛᨈᨘ ᨆᨂᨚᨒᨚᨕᨙ ᨊᨄᨘᨊᨕᨗ ᨈᨕᨘ ᨐᨙᨆᨁᨘᨑᨘᨕᨙ ᨆᨊᨛᨊᨘᨂᨛ, ᨔᨛᨉᨃ ᨓᨛᨈᨘ ᨒᨅᨛᨕᨙ ᨊᨄᨘᨊᨕᨗᨕ ᨈᨕᨘ ᨐᨙᨊᨄᨍᨕᨗ ᨆᨁᨘᨑᨘ᨞

Bagi Prof. Hamzah dan kita semua tentu sepakat bahwa dunia yang kita huni, senantiasa dan tak henti berubah. Untuk bisa memahami, mengikuti, dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi, maka kita harus bisa mengetahui dan memprediksi arah perubahan ke depan. Itu semua bisa dimiliki bila kita tak mengenal kata letih untuk belajar.

Namun, dalam pesan yang terpasang di koridor tepat di depan pintu ruang guru dan kepala sekolah itu, terdapat sebuah kata Bugis dalam aksara lontaraq yang rasanya kurang pas: ᨔᨛᨉᨃ (sedangkang), yang dipinjam dari bahasa Indonesia: sedangkan. Mungkin akan lebih bernuansa arkaik bila kata ᨔᨛᨉᨃ (sedangkang) ini diganti dengan kata ᨊᨕᨙᨀᨗᨕ (naékia).

Hal menarik lainnya adalah, petuah yang terpasang di koridor menuju masjid Nurul Ilmi SMAN 14 Boné –nama masjidnya sama dengan nama masjid SMAN 3 Boné, akan kita temukan petuah-petuah yang bernuansa agamis. Sepertinya ada unsur kesengajaan untuk menempatkan petuah yang berbau religius di dekat tempat ibadah.

Berikut ini kutipan sebuah petuah yang digubah oleh Hj. Murni, S.Ag. di koridor depan pintu masjid: Jika Hati Sudah Terpaut Dengan Rumah Allah, Maka Yakin Kita Mendapatkan Naungan Allah  -  If The Heart Is Already Adrift With The Mosque, Then We Get The Shade Of Good  -  ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨔᨗᨔᨚᨇᨘᨊᨗ ᨕᨈᨗᨕᨙ ᨊ ᨅᨚᨒᨊ ᨄᨕ ᨕᨒ ᨈᨕᨒ, ᨆᨍᨛᨄᨘ ᨑᨗᨒᨚᨒᨚᨂᨛᨊᨗ ᨑᨗᨈᨘ ᨌᨗᨊᨕᨘᨂᨛᨊ ᨄᨘᨕ ᨕᨒ ᨈᨕᨒ᨞

Pada petuah ini, ada sedikit kekeliruan penulisan, khususnya pada tulisan aksara lontaraq pada kalimat pertama. Di sana tertulis kata ᨄᨕ (pa-ang), yang seharusnya tertulis ᨄᨘᨕ (pu-ang) yang mengacu ke Tuhan, sebagaimana yang tertulis di kalimat kedua. Mungkin penulisnya lupa membubuhkan tanda titik di bawah huruf ᨄ (pa) yang menjadi penanda vokal u.

Implementasi dari pesan ini, mengejawantah pada pelaksanaan salat Jumat berjamaah di masjid tersebut. Mulai dari pembawa acara, muazin, khatib, hingga imam salat Jumat, semua diisi oleh siswa. Satu hal lagi, pengumuman dan khutbah disampaikan dalam bahasa Bugis yang fasih.

Beberapa pesan dalam khutbah Jumat yang masih tersimpan di benakku –sayang aku lupa menanyakan nama khatibnya, adalah berikut ini: ᨄᨀᨀᨔ ᨈᨘᨕᨚ ᨑᨗ ᨒᨙᨅᨚᨊ ᨈᨊᨕᨙ : (Pakkakkasaq tuo ri léboqna tanaé:1. ᨄᨛᨒᨛ ᨈᨛ ᨄᨛᨉᨙ : ᨈᨛᨄᨛ᨞ (Pelleng tempeddé: teppeq); 2. ᨅᨘᨅᨘ ᨈᨛ ᨆᨛᨈᨗ : ᨄᨉᨗᨔᨛᨂᨛ᨞ (Bubung temmetti: paddissengeng); 3. ᨅᨚᨀᨚ ᨈᨛ ᨆᨓᨑᨗ : ᨕᨆᨒ᨞ (Bokong temmawari: amalaq); 4. ᨄᨀᨕᨗᨓ ᨈᨛ ᨆᨅᨘᨑᨘ : ᨕᨇᨙ ᨆᨉᨙᨌᨙ᨞ (Pakaiang temmaburuq: ampé madécéng); 5. ᨈᨚᨊ - ᨈᨚᨊᨂᨛ ᨆᨁᨈᨗ : ᨆᨉᨇᨙ - ᨑᨇᨙ ᨑᨗ ᨄᨘᨕᨂᨙ᨞ (Tona-tonangeng magatti: maddampé-rampé ri puangngé).

Secara sederhana, terjemahan dari inti khutbah tersebut adalah, Perkakas/peralatan hidup di muka bumi: 1. Pelita yang takkan padam: iman/keyakinan; 2. Perigi yang takkan kering: ilmu pengetahuan; 3. Bekal yang takkan basi: amal saleh; 4. Pakaian yang takkan lapuk: perbuatan baik; 5. Kendaraan yang melaju kencang: senantiasa mengingat Tuhan (zikrullah).

Di tengah geliat dunia yang menggiring segenap sendi kehidupan untuk membelitkan diri dan berkelindan dalam belukar algoritma, di SMAN 14 Boné, aku menemukan secercah cahaya, ikhtiar untuk menjaga lokalitas, baik secara lisan maupun tulisan. Sebentuk interupsi bagi gelombang besar penyeragaman bahasa: algoritma.

Akankah ini akan bertahan? Berapa lama? Tentu ini tergantung pada kesadaran kita untuk bergerak bersama bahwa tidak semua hal harus kita titipkan pada dunia maya dan bahasa algoritma. Ada sisi kehidupan yang tetap perlu diurapi dengan khasanah kearifan lokal yang tak harus terdigitalisasi. 

Semoga!

Posting Komentar

0 Komentar