[TANA TORAJA, 12.06.2026] Aku berdiri di teras ruang guru SMAN 11 Tana Toraja. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.56 wita. Waktu salat Jumat sudah tak lama lagi. Tapi mentari masih juga enggan menampakkan diri. Gumpalan-gumpalan kabur masih nampak di sana-sini. Suhu udara masih lumayan sejuk.
Meski sebagai musafir yang terbebas dari kewajiban berjamaah Jumat, kurang afdal rasanya bila melewatkan jamaah. Memandang ke kejauhan, ku telisik di masjid mana gerangan aku bisa menunaikan salat Jumat di daerah yang berbukit-bukit ini, tak ada menara masjid yang tampak.
Dengan persentase muslim yang hanya 12,15% dari seluruh populasi penduduk Tana Toraja, keberadaan masjid menjadi tak sepadat di daerah mayoritas muslim. Berdasarkan data BPS yang disajikan dalam Sulsel Dalam Angka 2026, ada 159 masjid yang tersebar di 19 Kecamatan di Tana Toraja.
Menariknya, posisi minoritas dan minoritas di Tana Toraja, bukan masalah. Dengan ditopang oleh kearifan lokalnya, dengan keragaman yang ada, Tana Toraja menjadi salah satu daerah di Indonesia dengan indeks toleransi dan kerukunan umat beragama tertinggi.
Kembali soal salat Jumat, begitu jam menunjukkan pukul 12.03 wita, kubuka aplikasi google maps untuk memantau lokasi masjid terdekat. Ketemu Masjid Amal Bakti Pali, cuma semenit dengan mobil dari SMAN 11 Tana Toraja yang terletak di Lembang Pali, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja. Masjid terletak di Lembang yang sama.
Setiba di sana, rupanya khatib sudah naik mimbar, aku terlambat. Salat Jumat dipimpin oleh khatib yang merangkap imam. Ini mungkin salah satu salat jumat tersyahdu yang aku ikuti, aku tidak berani menyebutnya khusyuk. Dalam udara nan sejuk, makmum yang cuma berjumlah 20 orang (10 orang tiap saf), dan empat di antaranya anak-anak.
Tak ada kebisingan, hanya suara imam yang dengan fasih melafalkan ayat-ayat Al Qur'an. Usai salat Jumat dan menuntaskan zikir, jamaah mulai bubar, sebagian menegakkan salat sunnah. Aku juga memilih berdiri untuk salat, aku iqamah lalu memantapkan niat, menegakkan salat duhur dan salat asar secara jamak- qasar.
Selesai solat, masjid yang berukuran imut ini sudah lengang. Begitu aku beranjak sambil merogoh saku untuk mengisi kotak amal, seseorang berjalan mendekat, rupanya ustaz Fadil yang menyodorkan nasi bungkus. Refleks aku bertanya, "Apa ini, ustaz?" Ustaz muda itu menjawab, "Jumat berkah, Pak." Aku kembali bertanya, "Dari mana?" Dijawabnya, "Ada komunitas, teman-teman."
Aku lalu berkenalan singkat dengan sang ustaz. Fadil namanya. Ustaz Fadil namanya, seorang ASN yang bertugas sebagai penghulu di Kantor Urusan Agama Kecamatan Bittuang. Dia dari Kota Makassar, alumni Jurusan Hukum Keluarga Unismuh Makassar. Kami bertukar nomor kontak, dan lalu berpisah sambil berharap bisa bertemu lagi di lain waktu.
Terus terang, aku kagum dengan semangat dakwah orang-orang seperti ustaz Fadil yang terus bergerak membina umat di daerah pedalaman. Di tengah beratnya tantangan geografis serta infrastruktur, tetap bergerak menjadi senoktah cahaya demi menyalakan api peradaban mulia.
Meski penganut Islam menjadi warga mayoritas di Tana Toraja, tantangan diskriminasi secara langsung relatif minim. Ini didukung oleh kearifan 'Tallu Batu Lalikan' yang berarti "tiga tungku batu". Ini adalah filosofi dasar dan sendi utama sistem sosial, termasuk kepemimpinan tradisional masyarakat Tana Toraja.
Masyarakat Toraya -sebutan bagi masyarakat Tana Toraja yang bermakna Manusia Mulia, ditopang oleh tiga pilar, yaitu: Ketuhanan (Puang Matua, Sang Pencipta), Sistem Sosial (Tana', stratifikasi dan sistem kekerabatan), dan Pemerintah (To Ma'dika, pemangku adat dan pemimpin sosial).
Tiga pilar inilah yang menjaga keutuhan sosial dan menghindarkan masyarakat dari konflik sosial di Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo (negeri yang bulat bagaikan bulan dan matahari). Bahkan tak jarang, dalam satu tongkonan -rumah tradisional yang menjadi simbol rumpun keluarga- kita temukan mereka yang berbeda agama hidup dengan rukun.
Perbedaan, perselisihan, maupun pelanggaran atas aturan adat, diselesaikan melalui musyawarah keluarga besar di rumah tongkonan (berasal dari kata tongkon yang berarti duduk) dengan bimbingan To Parenge' atau To Makaka, pemimpin rumpun keluarga.
Dalam konteks ini, tongkonan menjadi medium utama secara kultural untuk merumuskan 'kalimatun sawa', kata sepakat atau titik temu dari beragam perbedaan yang berpotensi menimbulkan konflik di tengah rumpun keluarga. Tongkonan menjadi representasi interaksi sosial yang diurapi toleransi antara sesama.
Kembali ke ustaz Fadil, mengingat materi khutbah yang disampaikannya, serta percakapan pintas selepas salat, apalagi pekerjaannya sebagai penghulu, membuatku yakin bahwa ia memiliki pemahaman yang memadai perihal pluralisme sikap tasamuh (toleran) dalam berdakwah.
Sebagai penghulu di Kantor Urusan Agama Kecamatan Bittuang, ustaz Fadil bersama komponen lain di Kemenag, bisa menjadi agen implementasi trilogi kerukunan. Dengan keragaman agama, dan kedalaman penghayatan budaya, Tana Toraja adalah ruang yang tepat untuk menerapkan kerukunan yang pertama: kerukunan antarumat beragama. Dan tongkonan ada katalisator yang tepat untuk itu.
Perspektif Islam yang mengedepankan sikap "tasamuh" dalam mencari "kalimatun sawa", selaras dengan konsep tongkonan yang bukan hanya sekadar bangunan fisik, melainkan sebagai struktur kesadaran untuk senantiasa mencari titik temu dan mufakat melalui tradisi ma'lika' lente' atau tongkon, duduk dan lalu bermusyawarah.
Kerukunan kedua adalah kerukunan dengan alam melalui pendekatan ekoteologi sebagai bagian dari tanggung jawab moral umat beragama dalam mewujudkan kelestarian lingkungan. Bagi seorang muslim, dalam konsep kekhalifahan melekat fungsi untuk merawat dan meruwat alam sekitar, mencegah eksploitasi, serta mengeksplorasi dengan memperhatikan daya tahan dan keberlanjutan keanekaragaman hayati.
Sementara itu, di Toraya, dikenal relasi harmonis yang holistik antara "tallu lolona" (meliputi lolo tau, lolo patuoan, dan lolo tananan), yang dilandasi penghayatan akan keyakinan pada Puang Matua, seralas dengan konsep ekoteologi. Bahwa Puang Matua tak hanya menugaskan manusia merawat kehidupannya, melainkan juga bertanggungjawab merawat patuoan (hewan, fauna) dan tananan (tumbuhan, flora).
Dalam konteks ini, ustaz Fadil atau siapapun yang bergerak untuk dakwah Islam di Tana Toraja, bisa mengoptimalkan potensinya masing-masing untuk menjadi pelopor pelestarian lingkungan. Bagus seorang penghulu, misalnya, dengan meminta pasangan calon pengantin menunjukkan komitmennya pada pelestarian lingkungan melalui penanaman pohon, dan lain sebagainya.
Terakhir, kerukunan ketiga adalah kerukunan dengan Tuhan. Ini tak semata bermakna melaksanakan secara konsisten pelbagai ibadah ritual, melainkan lebih pada upaya menjaga relasi vertikal tetap kukuh melalui penghayatan atas nilai-nilai spiritualitas yang mendalam. Praktik keagamaan "pemala' langngan Puang Matua" melalui ritual pengurbanan yang diatur dalam "aluk" berbasis tradisi yang diwariskan "todolo" menjadi kunci bagi spiritualitas warga Toraya.
Konstruksi holistik aluk todolo yang merajut apik kelindan tallu lolona dengan Puang Matua sebagai sumbu utama adalah modal utama mewujudkan Tana Toraja menjadi negeri yang pemimpin, rakyat dan sistem sosialnya diikat oleh prinsip ketuhanan yang utuh ibarat bulan dan matahari yang bulat sempurna. Toraya adalah "tondok lepongan bulan, tana matari allo".
Dalam Islam, prinsip tauhid tak hanya bermakna keesaan Tuhan, melainkan juga mencakup ketunggalan realitas. Ini juga bermakna bahwa Tuhan, alam, dan manusia berinteraksi dalam hukum yang tunggal dengan Allah sebagai poros utama. Segala hal, berada bersama Tuhan dan sekaligus senantiasa dalam naungan kasih dan kuasaNya.
Manusia sebagai khalifah bertugas memakmurkan alam semesta, agar semua mahluk (flora, fauna, dan apapun selainNya) senantiasa berdzikir padaNya. Di sisi lain, sebagai hamba, manusia mengorkestrasi dan mengoptimalkan pendayagunaan segenap apa yang ada (alam beserta isinya), dalam upaya menggapai ibadah secara optimal.
Maka patut untuk menjadi pertimbangan bagi ustaz Fadil dan siapapun yang menjadi motor gerakan dakwah Islam di Tana Toraja, bahwa keberhasilan dakwah tidak semata terletak pada seberapa banyak berhasil mengajak warga melakukan konversi keyakinan menjadi Islam secara formal, melainkan bagaimana dakwah mampu membawa nilai-nilai Islam ikut tongkon, duduk bersama membicarakan ragam soal yang dihadapi rumpun keluarga dan masyarakat.
InsyaAllah!
Ilustrasi: IslamRamah.Co

0 Komentar