[ SABTU, 13.06.2026 ] Kemarin, karena penugasan dari kantor, aku bersama rekan kerja, menginjakkan kaki di sekolah pada jelang pukul 10.00 pagi. Aku lupa melirik jam, Sepanjang perjalanan dari kota Makale hingga tiba di SMA Negeri 11 Tana Toraja yang terletak di Lembang Pali, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja.
Begitu tiba dan turun dari kendaraan, dengan rakus kuhirup udara pagi nan segar, kupenuhi rongga dadaku dengan oksigen yang terasa begitu murni. Di kejauhan nampak bukit-bukit nan hijau masih dalam balutan kabut yang seperti selimut bulu berwarna abu-abu nan lembut. Ya, matahari belum menampakkan wajahnya, meski pagi sudah diambang siang.
Perhatianku lalu tertuju pada tiang ring basket yang tertancap di lapangan tanah berumput. Sepertinya tak pernah lagi digunakan, toh papannya sudah rompal dan jaringnya sisa sedikit. Aku yakin, dulu, tiang itu berdiri gagah dengan ring yang temalinya masih mengkilap, bahkan mungkin sedikit pongah. Tetapi, muncul tanya di benakku, bagaimana cara bermain basket di lapangan rumput?
Mataku bergeser ke arah utara, tiang ring yang satu tertancap, di atas lantai semen. Aku merasa ini sesuatu yang unik. Bermain basket di lapangan berumput telah membuatku berimajinasi jauh, diperkuat dengan lapangan yang cuma sepertiganya telah disemen. Mengapa bisa ada lapangan seunik itu?
Entah mengapa lapangan basket itu dibuat membujur Utara Selatan, padahal halaman yang telah diratakan dengan semen, lebih memungkinkan lapangan basket dibuat membujur dari Timur ke Barat. Mungkin ada pertimbangan khusus saat lapangan itu dibuat. Aku juga tak berusaha menanyakannya ke orang-orang di sekolah.
Dari tuturan seorang guru, sekolah menengah atas ini berdiri dan mulai menerima siswa sejak tahun 2013 Islam. Sekolahnya tak besar, awalnya hanya dua kelas dengan lantai semen, beratap seng, dan dinding papan yang dipasang bersusun ditambah sebuah gedung permanen yang jadi satu ruang kelas, serta ruang guru yang bersambung dengan ruang manajemen sekolah berkantor.
Beruntung beberapa tahun kemudian, sekolah ini mendapatkan bantuan dari pemerintah, sepertinya Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Pendidikan. Jadilah dua ruang kelas dan satu perpustakaan dengan bangunan permanen. Sebagian bangunan lama berdinding papan tadi, lalu disulap menjadi perpustakaan sekolah, sedang sebagian lainnya, entah digunakan untuk apa.
Ya, sekolah ini cuma ada ruang belajar untuk semua tingkatan kelas. Saat ini, proses penerimaan siswa baru tahun ajaran 2026/2027 sementara berlangsung. Dari informasi seorang guru, tahun ajaran lalu, kelas satu (yang sekarang naik ke kelas dua) hanya berisi 13 (tiga belas) siswa. Kelas dua (naik ke kelas tiga) dihuni 19 (sembilan belas) siswa, dan kelas tiga (yang baru saja lulus) berjumlah 22 (dua puluh dua) siswa.
Minimnya jumlah siswa sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dan prasarana (baik sekolah maupun transportasi), serta orientasi masa depan. Para remaja yang seharusnya masuk sekolah menengah atas, memilih melanjutkan ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang memberikan kemampuan teknis lebih spesifik keahlian.
Sebagian lagi memilih untuk melanjutkan sekolah di kota Makale, meski dengan risiko harus menyewa kos-kosan. Ini masih lebih mending daripada harus sekolah di SMA Negeri 11 Tana Toraja dan tetap tinggal di kampung. Mereka kadang harus berangkat dari rumah sejak pukul setengah lima subuh dengan risiko bertemu binatang buas, atau jalur jalan terendam banjir dan/atau tertutup longsor.
Kembali ke lapangan basket yang unik tadi, bagi kami yang terbiasa hidup di kota dengan berbagai fasilitas yang lebih memanjakan, kondisi ini lumayan menarik. Bayangkan saja, meski sudah menjelaskan siang, udara tetap sejuk tanpa pendingin ruangan, mentari belum juga tampak. Tak ada panas yang menyengat dan udara yang berpolusi.
Selepas menunaikan salat Jumat, kami memilih mengabadikan kunjungan dengan berfoto bersama di tengah lapangan. Berlatar pegunungan hijau di kejauhan dan udara yang memanjakan paru-paru, kami menjepret kebersamaan dengan berbagai pose. Tawa renyah mewarnai suasana, tak ada raung suara kendaraan bermotor atau musik yang bingar bak pasar malam.
Di ketinggian angkasa, terlihat elang terbang dengan jumawa, mengepakkan sayapnya lebar-lebar, menyiagakan cakar-cakarnya yang kukuh dan tajam, lalu melayang sebebas-bebasnya. Sungguh sebuah pemandangan langka. Sebagian kami mencoba teriak seheboh-hebohnya, sambil menunjuk-nunjuk ke arah burung yang menjadi inspirasi lambang negara ini, Garuda.
Tapi keriangan itu tetap tak menjawab tanyaku, mengapa lapangan basketnya demikian unik? Seakan menjadi penghubung antara masa silam yang alami nan hijau dengan masa depan yang didominasi semen bernuansa kelabu. Atau jangan-jangan di sana ada portal yang menghubungkan dua dunia: antara tradisi dan modernitas? Entahlah.
Coba kukemukaan berbagai kemungkinan ke mereka yang hadir, sebagian besar merespon dengan tergelak, tapi tak menjelaskan apa-apa, memilih terbawa dalam suasana yang riuh. Ku coba mengamati kedua tiang ring, jangan-jangan mereka dari dunia yang berbeda, tapi tak ada yang aneh, keduanya memang sepasang, cuma terpasang di lokasi dengan kondisi berbeda.
Menariknya lagi, menurut informasi yang kudengar, lapangan basket itu juga tak pernah digunakan, tak ada siswa, guru, tenaga kependidikan, bahkan masyarakat sekitar, yang pernah main basket di situ. Itu pula mungkin yang menjadi alasan mengapa lapangan basket itu demikian unik. Mungkin memang dibuat bukan untuk menjadi arena bertanding.
Mungkin agar sarana olahraga untuk siswa tersedia secara formal, atau sebagai artefak daya tarik bagi calon siswa, atu bisa juga sebagai bukti bahwa anggaran pembangunan telah terserap. Beragam dugaan berseliweran di benak, dan tak ada satupun yang bisa diklaim sebagai penjelasan paling sahih. Tak ada. Semua hanya dugaan tak bertuan.
Tapi meski lapangan basket unik itu menjadi tak fungsional, tak mempengaruhi semangat guru-guru meningkatkan kapasitasnya. Saat sebagian mereka menjalankan tahapan penerimaan calon mahasiswa baru, sebagian yang lain tetap bergairah mendengarkan pengawas sekolah memaparkan strategi pembelajaran mendalam (deep learning).
Saat kami pamit saat ujung siang bertemu muka dengan awal sore. Kembali kami menyusuri jalan berbukit dan berkelok dengan pemandangan nan menawan. Aliran salah satu hulu sungai Saddang yang berbatu di sepanjang jalan ke arah Makale, dengan beberapa air terjun kecil, membuat suasana perjalanan demikian syahdu.
Bahkan, kami menyempatkan diri mampir di sebuah destinasi wisata di sisi sungai Kondongan yang bermuara di salah satu aliran hulu sungai Saddang. Gemericik air, desau angin sore menggesek dedaunan nan rimbun, membuat hari tak ingin lekas tiba di kota. Tapi medan jalan yang nampaknya minim penerangan di malam hari, membuat kami memutuskan segera beranjak.
Sayang, keindahan tepi sungai Kondongan dan lanskap alam yang permai, bahkan bisa dikata sebagai sepetak surga yang menyata di bumi, tak mampu mengalihkan perhatianku dari lapangan basket unik di SMA Negeri 11 Tana Toraja. Atau jangan-jangan justru karena itu, karena ini di surga, maka lapangan basketnya terasa anti mainstream, berbeda dengan kebanyakan lapangan basket di bumi.
Entahlah!

0 Komentar